Mencekam! Auman Keras Diduga Harimau Sumatera Kejutkan Pekerja Perkebunan di Tapanuli Selatan

Mencekam! Auman Keras Diduga Harimau Sumatera Kejutkan Pekerja Perkebunan di Tapanuli Selatan

Warga Desa Perkebunan, Tapanuli Selatan, dicekam ketakutan setelah mendengar auman keras yang diduga berasal dari Harimau Sumatera.-Foto:Unsplash@RebecaChambell-

SUMUT.DISWAY.ID – Suasana kerja di lahan PTPN IV Hapesong, Desa Perkebunan, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), mendadak berubah menjadi kepanikan pada Selasa 23 Desember 2025 pagi. Sejumlah ibu-ibu yang tengah bekerja sebagai buruh harian lepas terpaksa membubarkan diri setelah mendengar suara mengaum keras yang diduga berasal dari Harimau Sumatera.

Kepala Desa Perkebunan, Julianto, mengonfirmasi bahwa insiden tersebut terjadi antara pukul 10.00 hingga 11.00 WIB. Suara auman yang menggelegar di Kampung Malombu itu sontak membuat para pekerja merasa terancam dan memilih segera meninggalkan lokasi demi keselamatan jiwa.

"Warga menceritakan kejadian tersebut setelah mereka sampai di pemukiman. Tentu ini memicu kekhawatiran besar di tengah masyarakat," ungkap Julianto melalui sambungan telepon, Rabu 24 Desember 2025.

Teror Dua Pekan dan Temuan Jejak Misterius

Kehadiran satwa dilindungi ini ternyata bukan pertama kalinya dirasakan warga. Dalam dua pekan terakhir, Desa Perkebunan seolah "diteror" oleh kemunculan predator tersebut. Julianto menyebutkan bahwa warga tidak hanya sekadar mendengar suara, tetapi ada pula yang melihat langsung sosoknya.

Selain penampakan visual, warga juga menemukan jejak kaki yang diduga kuat milik harimau di area jalan desa hingga halaman rumah penduduk. Kondisi ini membuat aktivitas warga menjadi lumpuh karena rasa trauma, terutama saat matahari mulai terbenam.

Penjagaan BKSDA dan Kamera Pengintai

Merespons situasi yang kian mengkhawatirkan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah 3 Sumatera Utara telah mengambil tindakan dengan memasang empat unit kamera pengintai (camera trap). Pemasangan alat ini bertujuan untuk memastikan pergerakan satwa pasca-bencana banjir dan longsor yang melanda Tapsel pada akhir November lalu.

"Kamera pemantau tersebut rencananya akan dibuka kembali pada 5 Januari 2026. Untuk saat ini, kami semua masih was-was karena suara auman itu memperkuat dugaan bahwa harimau tersebut masih berkeliaran di dekat pemukiman," jelas Julianto lagi.

Masyarakat setempat berharap pihak berwenang dapat segera menangani masalah ini agar satwa liar tersebut kembali masuk ke habitat aslinya di dalam hutan. Keamanan warga menjadi prioritas utama, mengingat rasa takut yang masih menghantui mereka dalam menjalani rutinitas harian di perkebunan.

 

 

Sumber:

Berita Terkait