Teka-teki Penerus Khamenei: Mengenal Mekanisme Suksesi dan Calon Pemimpin Tertinggi Iran

Teka-teki Penerus Khamenei: Mengenal Mekanisme Suksesi dan Calon Pemimpin Tertinggi Iran

Pasca wafatnya Ali Khamenei, Iran bentuk dewan kepemimpinan sementara. Kandidat kuat adalah putra pertamanya yakni Mojtaba Khamenei.-Foto:Wikipedia.-

SUMUT.DISWAY.ID – Wafatnya Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, setelah berkuasa selama hampir 37 tahun, memicu pertanyaan besar mengenai masa depan Republik Islam Iran. Di tengah duka dan kecamuk agresi militer Amerika Serikat serta Israel, Teheran kini mulai menggerakkan roda konstitusi untuk menentukan siapa sosok yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan tertinggi.

Sesuai konstitusi Iran, sebuah dewan kepemimpinan sementara telah dibentuk pada Minggu (1/3/2026) untuk menjalankan tugas-tugas negara. Dewan ini terdiri dari Presiden Iran saat ini, Masoud Pezeshkian, Kepala Yudisial Gholamhossein Mohseni Ejei, serta anggota Dewan Garda yang dipilih oleh Dewan Kebijaksanaan.

Mekanisme Pemilihan Pemimpin Baru

Meskipun dewan sementara telah mengambil alih tugas harian, keputusan akhir mengenai siapa "Rahbar" atau Pemimpin Tertinggi berikutnya berada di tangan Majelis Ahli (Assembly of Experts). Panel yang terdiri dari 88 ulama Syiah ini memikul tanggung jawab hukum untuk segera memilih pengganti permanen.

Para anggota Majelis Ahli sendiri merupakan tokoh-tokoh yang dipilih oleh rakyat setiap delapan tahun sekali. Namun, proses pencalonan mereka harus melewati saringan ketat Dewan Garda. Ketatnya seleksi ini terbukti saat mantan Presiden Hassan Rouhani, yang dikenal sebagai tokoh moderat, didiskualifikasi dari pemilihan Majelis Ahli pada Maret 2024 lalu.

Siapa Kandidat Terkuat?

Proses penentuan suksesi di Iran biasanya berlangsung sangat tertutup, jauh dari jangkauan publik. Sebelumnya, mendiang Presiden Ebrahim Raisi sempat diprediksi kuat sebagai calon pewaris takhta Khamenei. Namun, nasib berkata lain setelah Raisi tewas dalam kecelakaan helikopter pada Mei 2024.

Kini, sorotan tertuju pada putra Khamenei, Mojtaba Khamenei. Pria berusia 56 tahun yang juga seorang ulama Syiah ini muncul sebagai kandidat potensial, meskipun ia belum pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan.

Namun, skenario transisi ayah-ke-anak ini bukan tanpa hambatan. Penyerahan kekuasaan secara dinasti dikhawatirkan memicu resistensi, baik dari kalangan kritis maupun pendukung sistem Republik Islam sendiri. Sebagian pihak menilai sistem warisan tersebut tidak sejalan dengan semangat Revolusi 1979 yang meruntuhkan dinasti Shah Mohammad Reza Pahlavi.

Kekuasaan Absolut sang Pemimpin Tertinggi

Posisi Pemimpin Tertinggi adalah jantung dari teokrasi Iran. Ia memegang kata putus atas seluruh urusan negara dan menjabat sebagai Panglima Tertinggi angkatan bersenjata, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Siapa pun yang terpilih nantinya akan memegang kendali atas "Poros Perlawanan" (Axis of Resistance), jaringan aliansi militer Iran di Timur Tengah yang dirancang untuk membendung pengaruh AS dan Israel. Sejarah mencatat, transisi kekuasaan ini adalah yang kedua kalinya sejak kematian Grand Ayatollah Ruhollah Khomeini pada tahun 1989. Dunia kini menunggu, apakah pemimpin baru Iran akan tetap pada jalur perlawanan keras atau membawa angin perubahan di tengah ancaman perang yang kian nyata.

 

Sumber: