Jangan Asal Masuk Freezer, Pakar Unair dan IPB Beberkan Batas Aman Simpan Daging Kurban
Potongan daging kurban yang telah dikemas rapi dalam wadah plastik kecil siap dimasukkan ke dalam freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius.-Unsplash@cindiehansen-
sumut.disway.id - Pendistribusian daging kurban saat perayaan Idul Adha sering kali menyisakan masalah klasik mengenai tata cara penyimpanan di rumah. Masyarakat umumnya langsung memenuhi mesin pendingin tanpa memahami batasan waktu dan regulasi suhu yang benar, sehingga justru merusak kualitas gizi dan rasa bahan pangan tersebut.
Pakar Gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Lailatul Muniroh, menjelaskan bahwa manajemen penyimpanan harus mengambil dasar dari rencana penggunaan daging kurban tersebut. Masyarakat tidak perlu memasukkan semua stok ke dalam ruang pembekuan jika ingin mengolah bahan tersebut dalam waktu dekat.
"Jika daging kurban akan digunakan dalam satu atau dua hari, cukup simpan di chiller. Kalau mau lebih lama awet bisa disimpan di freezer," ujar Lailatul Muniroh melalui keterangan resmi di laman Unair.
Lailatul menyebutkan bahwa kompartemen utama kulkas atau chiller hanya menyediakan ketahanan daging selama satu hingga dua hari saja. Sebaliknya, mesin pembeku atau freezer yang memiliki regulasi suhu konsisten di bawah minus 18 derajat Celsius bisa mengawal masa simpan daging hingga waktu berbulan-bulan.
"Daging kurban tahan 6-12 bulan di freezer bila suhu di bawah minus 18 derajat Celsius. Untuk daging yang sudah diolah atau dimasak, bisa bertahan dua hingga tiga bulan jika disimpan dalam freezer," jelasnya lebih dalam. Namun, ia mengingatkan adanya risiko oksidasi lemak yang bisa mengubah aroma, tekstur, dan rasa jika penyimpanan terlalu lama.
Regulasi Suhu Minus 18 Derajat Jadi Kunci Utama
Dari sudut pandang teknologi pangan, Guru Besar Ilmu Teknologi Pangan IPB University, Prof Eko Hari Purnomo, menambahkan bahwa standarisasi suhu pembekuan di angka -18°C memiliki peran utama untuk menghentikan siklus hidup mikroba pembusuk. Proses pembekuan ini memang bertujuan utama untuk menurunkan laju kerusakan sel daging.
"Semakin rendah suhu penyimpanan, maka laju kerusakan akan semakin lambat. Hal ini akan membantu produk mempertahankan mutunya, baik dari segi rasa, gizi, maupun keamanan mikrobiologis," jelas Prof Eko melalui publikasi IPB University.
Namun, Prof Eko memberikan catatan tegas mengenai performa mesin pendingin domestik. Jika freezer di rumah tidak bisa mencapai suhu ideal tersebut, akan muncul kristal es dengan ukuran besar di dalam serat daging. Kondisi ini menjadi jalaran utama rusaknya sel, sehingga daging akan kehilangan banyak cairan alami saat proses pencairan atau thawing. Efeknya, daging menjadi garing dan kehilangan kelembutannya saat mulai dimasak.
Larangan Keras Membekukan Ulang Daging Cair
Guna menjaga mutu dan hiasan nutrisi, Prof Eko memberikan panduan praktis kepada masyarakat untuk membagi-bagi jatah daging kurban ke dalam kantong kemasan kecil sebelum masuk freezer. Ukuran potongan harus cocok dengan takaran porsi sekali masak untuk keluarga. Metode pemisahan ini ampuh sekali untuk mencegah kontaminasi silang bakteri dari luar.
Selain itu, dosen IPB ini melarang keras kebiasaan masyarakat yang sering memasukkan kembali daging yang sudah dicairkan ke dalam freezer. Kebiasaan tersebut menjadi penyebab utama turunnya kualitas gizi dan menjadi sarang bakteri perusak.
"Hindari membekukan ulang daging kurban yang sudah dicairkan karena mutunya akan sangat menurun. Oleh karena itu, gunakan kemasan sekali pakai untuk setiap kali thawing dan memasak," pungkas Prof Eko.
Untuk menambah keamanan konsumsi harian, Lailatul Muniroh juga memberikan saran tambahan supaya masyarakat memasang label tanggal saat pertama kali memasukkan daging ke dalam kulkas. Langkah tertib ini membantu keluarga untuk menerapkan sistem first in first out serta mencegah kerusakan tekstur daging akibat penyimpanan yang melewati batas aman.
Sumber: