Hampir Punah! 5 Kuliner Legendaris Karo Ini Makin Sulit Dicari untuk Menu Buka Puasa
Ramadan 2026 jadi momen rindu kampung halaman. Namun, lima kuliner legendaris khas Karo ini mulai sulit ditemukan dan terancam punah.-Foto:IG-
SUMUT.DISWAY.ID – Momen Ramadan selalu identik dengan perburuan kuliner autentik untuk berbuka puasa. Bagi masyarakat Sumatera Utara, khususnya warga Karo, kerinduan akan masakan kampung halaman seringkali memuncak di bulan suci ini. Sayangnya, tidak semua hidangan tradisional bisa ditemukan dengan mudah di pasar takjil atau rumah makan saat ini.
Beberapa kuliner khas Tanah Karo yang memiliki cita rasa tinggi kini mulai masuk dalam kategori langka. Proses memasak yang rumit serta sulitnya mendapatkan bahan baku menjadi alasan utama mengapa warisan rasa ini mulai menghilang dari meja makan generasi muda.
Berikut adalah lima kuliner khas Karo yang kini statusnya kian "gaib" dan hanya muncul di acara-acara adat tertentu:
1. Tasak Telu: Simbol Kebersamaan yang Mulai Pudar
Secara harfiah, Tasak Telu berarti "tiga masakan". Hidangan ini menggunakan ayam kampung sebagai bintang utama, yang disajikan bersama olahan darah atau hati ayam, serta sayur daun ubi. Dahulu, Tasak Telu menjadi menu wajib saat pesta panen sebagai lambang gotong royong. Kini, hanya segelintir rumah makan di Medan atau Kabanjahe yang masih berani menyajikannya secara rutin.
2. Sayur Umbut: Gurihnya Batang Pisang yang Terlupakan
Dulu, gulai batang pisang atau sayur umbut adalah primadona di pedesaan Karo karena bahannya melimpah. Dimasak dengan santan kental, kunyit, dan serai, sayur ini memberikan rasa gurih yang menenangkan perut setelah seharian berpuasa. Namun, seiring menyempitnya lahan kebun, warga kini lebih memilih sayuran modern yang lebih praktis didapat.
3. Pagit-Pagit (Terites): Sup Ekstrem Berkhasiat Tinggi
Inilah kuliner paling ikonik sekaligus ekstrem dari Tanah Karo. Bahan utamanya berasal dari sari rumput di lambung sapi atau kerbau yang belum tercerna sempurna. Meskipun terdengar tidak biasa, Pagit-pagit memiliki aroma andaliman yang kuat dan dipercaya sangat baik untuk kesehatan pencernaan. Sayangnya, karena pengolahannya membutuhkan keahlian khusus agar tidak berbau amis, hidangan ini kini sangat jarang dijumpai di luar upacara adat besar.
4. Cincang Bohan: Aroma Bambu yang Menggugah Selera
Cincang bohan merupakan olahan daging atau ikan yang dicincang bersama kelapa parut dan rempah andaliman. Keunikannya terletak pada proses memasaknya yang menggunakan bambu muda dan dibakar di atas bara api. Proses pembakaran yang memakan waktu lama membuat menu ini perlahan ditinggalkan karena dianggap kurang praktis bagi masyarakat perkotaan yang serba cepat.
5. Kidu-Kidu: Sajian Mewah dari Pohon Enau
Dahulu, Kidu-kidu atau ulat pohon aren adalah makanan kasta tertinggi untuk menghormati tamu agung. Ulat ini digoreng krispi lalu ditumis dengan bumbu kuning yang pedas getir khas andaliman. Mengingat pohon aren yang sudah mulai jarang dan sulitnya mencari ulat berkualitas, Kidu-kidu kini menjadi kuliner paling langka yang mungkin hanya bisa ditemukan di desa-desa terpelosok di wilayah Karo.
Melestarikan kelima masakan ini bukan sekadar menjaga rasa, tetapi juga mempertahankan jati diri budaya masyarakat Karo. Ramadan 2026 bisa menjadi momentum bagi para pengusaha kuliner untuk kembali memperkenalkan kekayaan rasa ini agar tidak hilang ditelan zaman.
Sumber: