Bukan Sekadar Bagi Uang, Terungkap Rahasia di Balik Amplop Merah Imlek yang Jadi Rebutan di Sintang!

Bukan Sekadar Bagi Uang, Terungkap Rahasia di Balik Amplop Merah Imlek yang Jadi Rebutan di Sintang!

Tradisi Angpao Imlek di Sintang ternyata punya sejarah panjang sebagai pengusir roh jahat sejak Dinasti Qin.-Unsplash-

SUMUT.DISWAY.ID – Kawasan Pasar Sungai Durian hingga tepian Sungai Kapuas kini mulai bersolek dengan rona merah menyala menyambut Tahun Baru Imlek. Di tengah kemeriahan lampion, satu tradisi yang paling memicu antusiasme warga—khususnya anak-anak dan remaja di Kota Sintang—adalah pembagian Angpao. Namun, tahukah kamu bahwa tradisi ini menyimpan sejarah ribuan tahun yang lebih dalam dari sekadar bagi-bagi uang tunai?

Ritual Pengusir Iblis dari Masa Dinasti Qin

Tradisi Angpao bermula sejak masa Dinasti Qin (sekitar 221–206 SM) dengan nama asli Ya Sui Qian. Secara harfiah, istilah ini berarti "uang pengusir roh jahat". Legenda kuno mengisahkan bahwa pemberian koin yang terbungkus kertas merah bertujuan melindungi anak-anak dari gangguan iblis bernama "Sui" yang sering muncul pada malam pergantian tahun.

Warna merah pada amplop memiliki makna filosofis yang kuat. Dalam kepercayaan Tionghoa, merah melambangkan elemen api yang mampu mengusir kegelapan dan energi negatif. Inilah alasan mengapa Angpao selalu identik dengan warna merah, sebagai simbol doa agar si penerima mendapatkan keselamatan dan keberuntungan sepanjang tahun.

Simbol Kerukunan di Bumi Senentang

Di Kabupaten Sintang yang akrab dengan julukan Bumi Senentang, tradisi Angpao bertransformasi menjadi potret indah toleransi antar-etnis. Saat hari raya Imlek tiba, anak-anak dari berbagai latar belakang suku sering terlihat berkunjung ke rumah warga Tionghoa untuk bersilaturahmi.

Pemandangan ini membuktikan bahwa Angpao telah menjadi medium perekat sosial. Meski bentuknya kini telah berubah dari koin yang terikat benang merah menjadi uang kertas dalam amplop modern, esensinya tetap sama: berbagi berkat dan doa untuk rezeki yang melimpah.

Transfer Energi Positif antar-Generasi

Secara tradisional, mereka yang sudah menikah atau mapan secara finansial wajib memberikan Angpao kepada kerabat yang belum menikah atau anak-anak. Hal ini merupakan bentuk transfer energi positif dan kebahagiaan dari orang tua kepada generasi muda. Di Sintang, momen ini biasanya memuncak di area Kelenteng atau saat jamuan makan keluarga yang penuh kehangatan.

Meskipun teknologi digital mulai menawarkan "Angpao elektronik", masyarakat Sintang tetap mempertahankan orisinalitas amplop fisik. Tradisi ini tidak hanya hadir saat Imlek, tetapi juga mewarnai acara pernikahan dan ulang tahun sebagai simbol doa terbaik. Melalui selembar kertas merah, sejarah panjang dari daratan Tiongkok kuno terus berdenyut di jantung Kalimantan Barat, menjembatani masa lalu dengan harapan masa depan yang lebih cerah.

 

Sumber: