Tren Penalti Langkah Patah Patah Bikin Messi Hingga Harry Kane Apes
Ekspresi kegagalan pemain bintang saat mengeksekusi penalti menggunakan teknik langkah patah-patah di Piala Dunia 2026.--
sumut.disway.id – Eksekusi penalti dengan teknik stutter-step atau langkah tersendat kini menjadi tren besar di Piala Dunia 2026. Trik mengecoh kiper lewat adu urat saraf dari titik putih ini dinilai sangat canggih, namun menyimpan risiko kegagalan yang sangat tinggi.
Tujuan utama dari teknik yang bergantung pada respons kiper ini adalah membuat penjaga gawang kebingungan. Pemain sengaja memperlambat tempo lari agar kiper bergerak lebih awal, sehingga bola bisa dengan mudah diceploskan ke arah berlawanan.
Mengutip apnews, Profesor dari Norwegian School of Sport Sciences, Geir Jordet, menilai teknik ini sangat rumit. Menurutnya, pemain membutuhkan ketenangan tingkat tinggi untuk bisa mempraktikkannya dengan sempurna di bawah tekanan mental yang masif.
"Jika Anda kompeten melakukan teknik ini, risiko kiper menebak arah dengan benar akan hilang," ujar Jordet yang juga penulis buku psikologi adu penalti. Namun, ia menambahkan bahwa pemain harus memiliki fokus pikiran yang sangat jernih.
Hampir Semua Pemain Meniru
Dunia penalti terus berevolusi setelah era tendangan keras maupun teknik melompat khas Bruno Fernandes dan Jorginho meredup. Kini, hampir seluruh eksekutor di Piala Dunia 2026 memiliki opsi tendangan patah-patah ini dalam daftar taktik mereka.
Sialnya, teknik ini justru membawa petaka bagi sejumlah megabintang. Lionel Messi sempat gagal saat tendangannya melebar melawan Austria di fase grup akibat memakai trik ini. Menariknya, Messi mengubah gaya menjadi lari normal saat melawan Mesir di babak 16 besar, namun tendangannya tetap bisa ditepis kiper.
Nasib serupa menimpa kapten Inggris, Harry Kane, saat bersua Kroasia. Tendangan patah-patah milik Kane sempat digagalkan kiper, sebelum akhirnya wasit meminta penalti diulang karena posisi kiper maju terlalu cepat. Kane baru mencetak gol pada kesempatan kedua melalui sepakan lurus konvensional.
Meski begitu, beberapa bintang sukses menerapkan trik ini di babak gugur. Kylian Mbappe berhasil mengunci kemenangan Prancis atas Paraguay, Cristiano Ronaldo membobol gawang Kroasia, dan Neymar yang kini berusia 34 tahun mencetak gol telat ke gawang Norwegia sebelum mengumumkan pensiun dari timnas.
Penyerang Meksiko, Raul Jimenez, disebut sebagai eksekutor terbaik untuk teknik ini. Jimenez memperlihatkan langkah tersendat yang berulang-ulang sebelum mencetak gol ke gawang Inggris.
Secara statistik, Jimenez merupakan algojo penalti terbaik sepanjang sejarah Premier League dengan rekor menyapu bersih 14 gol dari 14 kesempatan.
Kiper Mulai Pintar Membaca Trik
Seiring seringnya teknik ini dipakai, para penjaga gawang kini mulai membaca pola dan mengubah strategi pertahanan mereka. Kiper tidak lagi bergerak terlalu cepat dan memilih bermain secara psikologis untuk merusak mental penendang.
Akibatnya, daftar kegagalan pemain top dengan teknik ini terus bertambah panjang di fase krusial. Gelandang Brasil, Bruno Guimaraes, merasakan getirnya ditepis kiper dalam laga yang berakhir dengan kekalahan dari Norwegia.
Nasib lebih tragis dialami Justin Kluivert saat Belanda disingkirkan Maroko lewat adu penalti. Masuk di menit akhir babak perpanjangan waktu sebagai spesialis penalti, sepakan patah-patah Kluivert justru membentur tiang gawang. Ketika trik ini gagal, para eksekutor sering kali terlihat tidak profesional karena tampak terlalu santai di depan gawang.
Sumber: