Teladani Kasih Yesus, Uskup Agung Medan Basuh Kaki Umat di Misa Kamis Putih Katedral
Uskup Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung saat melakukan prosesi pembasuhan kaki 12 perwakilan umat dalam Misa Kamis Putih di Gereja Katedral Medan.-Foto:IG@katedralmedan-
SUMUT.DISWAY.ID - Ribuan umat Katolik memadati Gereja Katedral Santa Maria Tanpa Noda, Medan, untuk merayakan Misa Kamis Putih pada Kamis malam, 2 April 2026. Momentum ini menandai dimulainya Tri Hari Suci, yakni rangkaian tiga hari paling sakral dalam penanggalan liturgi Katolik yang meliputi peringatan sengsara, wafat, hingga kebangkitan Yesus Kristus.
Setelah melewati masa Prapaskah selama 40 hari, umat di Jalan Pemuda, Medan, tampak antusias mengikuti peribadatan dengan mengenakan pakaian serba putih sebagai simbol kemuliaan dan cinta kasih. Kepadatan jemaat meluber hingga ke area aula, gedung serbaguna, hingga halaman depan gereja.
Makna Pelayanan: Menjadi Besar dengan Berlutut
Puncak prosesi Kamis Putih ditandai dengan upacara pembasuhan kaki yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, O.F.M. Cap. Dalam suasana khidmat, Uskup membasuh satu per satu kaki dari 12 perwakilan umat yang melambangkan 12 rasul atau murid Yesus.
Melalui khotbahnya, Uskup Kornelius menekankan bahwa tindakan Yesus pada malam perjamuan terakhir merupakan sebuah revolusi kasih yang mengejutkan. Ia mengajak umat untuk memahami bahwa kehormatan sejati bukan terletak pada seberapa banyak seseorang dilayani, melainkan seberapa besar ia mampu melayani sesama.
"Yesus telah melayani, berlutut, dan membuktikan kasih-Nya. Menjadi besar bukan berarti dilayani, tetapi melayani dan menghormati. Rupanya menjadi besar itu berarti berlutut dan membasuh kaki sesama," tegas Mgr. Kornelius Sipayung dalam pesan pastoralnya.
Ia juga mengingatkan jemaat agar senantiasa memegang teguh perintah Yesus untuk meneruskan tradisi perjamuan tersebut sebagai peringatan akan kehadiran Tuhan di tengah-tengah umat-Nya.
Tradisi Tuguran dan Adorasi hingga Subuh
Usai pelaksanaan Misa Perjamuan Tuhan, rangkaian kegiatan berlanjut dengan tradisi Tuguran. Dalam tradisi Katolik, Tuguran merupakan ibadah berjaga-jaga dan berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus. Hal ini dilakukan untuk mengenang momen saat Yesus berdoa di Taman Getsemani sebelum Ia ditangkap oleh serdadu Romawi.
Waktu Pelaksanaan: Tuguran dimulai sejak pukul 22.00 WIB hingga tengah malam, bahkan berlanjut hingga waktu subuh.
Makna Spiritual: Umat diajak untuk secara bergantian "menemani" Yesus dalam saat-saat paling kritis sebelum penderitaan-Nya dimulai.
Simbolisme Warna: Penggunaan warna liturgi putih di sepanjang perayaan ini mencerminkan sukacita atas penetapan Sakramen Ekaristi dan Imamat oleh Yesus.
Misa Kamis Putih ini menjadi pintu gerbang menuju ibadah Jumat Agung yang akan dilaksanakan esok hari. Melalui perayaan ini, Gereja Katedral Medan berhasil menghidupkan kembali semangat kerendahan hati dan pengorbanan yang menjadi inti dari ajaran Kristiani, sekaligus mempererat persaudaraan antarumat di Kota Medan.
Sumber: