Kunjungan Wisatawan DIY Tembus 1,9 Juta Jiwa Namun Okupansi Hotel Justru Menurun
Kunjungan wisata ke Yogyakarta pada libur Lebaran 2026 melonjak hingga 1,9 juta orang, namun tingkat hunian hotel justru turun menjadi 70 persen akibat pergeseran tren.-IST-
SUMUT.DISWAY.ID - Lonjakan angka kunjungan wisatawan ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama periode libur Idulfitri 2026 ternyata tidak memberikan dampak linear terhadap sektor perhotelan. Meskipun destinasi wisata dipadati jutaan orang, tingkat hunian kamar hotel justru mencatatkan tren penurunan jika membandingkannya dengan perolehan tahun lalu.
Berdasarkan data resmi Dinas Pariwisata kabupaten/kota, total pergerakan wisatawan di berbagai destinasi DIY pada 14 hingga 29 Maret 2026 mencapai 1,9 juta kunjungan. Angka fantastis ini melampaui target awal sebesar 1,7 juta jiwa sekaligus mengungguli capaian Lebaran 2025 yang berada di angka 1,6 juta kunjungan.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, menegaskan bahwa pencapaian ini membuktikan daya tarik Yogyakarta tetap solid di tengah ketatnya persaingan destinasi wisata nasional. Secara spasial, Kota Yogyakarta masih mendominasi dengan 780.981 kunjungan, diikuti Sleman dengan 472.998 kunjungan, dan Gunungkidul sebanyak 421.018 kunjungan. Sementara itu, Kabupaten Bantul dan Kulon Progo masing-masing mencatatkan 144.633 dan 100.661 kunjungan.
"Wisata alam, khususnya kawasan pantai seperti Parangtritis, Depok, Glagah, hingga Pantai Baron, masih menjadi magnet utama. Selain itu, objek wisata sejarah seperti museum dan candi juga mengalami peningkatan trafik yang signifikan," ujar Imam.
Anomali Sektor Perhotelan
Namun, fakta di lapangan menunjukkan anomali pada sisi akomodasi. Data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengungkapkan tingkat okupansi hotel hanya menyentuh angka 70 persen. Persentase ini menyusut sekitar 5 persen dibandingkan periode Lebaran 2025 yang mampu mencapai 75 persen, bahkan jauh di bawah target optimis yang dipasang pada level 85 persen.
Sejumlah faktor disinyalir menjadi pemicu utamanya, mulai dari kondisi ekonomi makro hingga melemahnya daya beli masyarakat. Fenomena ini mendorong pergeseran perilaku wisatawan yang kini lebih selektif dalam memilih tempat menginap. Banyak pelancong mulai beralih ke akomodasi yang lebih terjangkau seperti homestay atau penginapan alternatif lainnya.
Selain faktor ekonomi, sentimen negatif mengenai harga sewa kamar hotel di Yogyakarta turut mencuat di media sosial. Sejumlah netizen mengeluhkan tarif hotel di Jogja yang dinilai relatif lebih mahal jika membandingkannya dengan kota-kota tujuan wisata lain di Indonesia. Hal ini memicu sebagian pemudik lebih memilih untuk menetap di rumah kerabat atau keluarga besar guna menekan pengeluaran selama masa liburan.
Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pelaku industri perhotelan di Yogyakarta untuk mengevaluasi strategi penetapan harga serta meningkatkan daya saing fasilitas agar mampu menarik minat wisatawan di masa mendatang.
Sumber: