Temui Gibran di Istana, PB IMSU Perjuangkan Ulos Jadi Warisan UNESCO dan Hari Nasional
Mahasiswa Sumut (PB IMSU) menemui Wapres Gibran di Istana untuk memperjuangkan Ulos sebagai warisan UNESCO dan mengusulkan penetapan Hari Ulos Nasional.-Foto:Wikipedia-
SUMUT.DISWAY.ID – Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara (PB IMSU) melakukan langkah strategis untuk membawa kearifan lokal ke panggung internasional. Ketua Umum PB IMSU, Lingga Pangayumi Nasution, memimpin delegasi mahasiswa bertemu langsung dengan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Minggu (8/2/2026).
Pertemuan tersebut fokus pada upaya mendorong Ulos agar segera diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda dunia oleh UNESCO. Tak hanya bicara tradisi, para mahasiswa ini memaparkan konsep modern lewat pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) sebagai instrumen pelestarian kebudayaan di era digital.
Lingga Pangayumi Nasution mengungkapkan bahwa Wapres Gibran sangat mengapresiasi semangat anak muda Sumut dalam menjaga identitas budaya mereka. Langkah ini selaras dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk terus mengembangkan kekayaan budaya nasional agar tetap diwarisi generasi mendatang.
"Mas Wapres memberikan dukungan penuh terhadap proses pengajuan Ulos ke UNESCO. Saat ini, Ulos memang sudah berada dalam daftar tunggu organisasi internasional tersebut guna memperkuat legitimasi budaya Indonesia di mata dunia," ujar Lingga.
Selain misi UNESCO, PB IMSU juga mengusulkan penetapan 17 Oktober sebagai Hari Ulos Nasional. Pemilihan tanggal tersebut merujuk pada momen saat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan kain khas Sumut ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2014. Harapannya, peringatan tahunan ini bisa sepopuler Hari Batik Nasional dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat.
Lingga, yang juga keturunan Bagas Godang Gunung Tua Panyabungan dan penulis buku sejarah Mandailing, menegaskan pentingnya modernisasi dalam menjaga tradisi.
“Merawat warisan budaya tidak cukup hanya dengan menjaga, tetapi juga harus berani memasukkannya ke dalam ekosistem teknologi. Ulos harus hidup dalam ruang digital,” tegas kader aktif HMI Jakarta Selatan tersebut.
Pertemuan ini menjadi sinyal kuat adanya kolaborasi antara pemerintah dan generasi muda dalam memastikan kekayaan budaya Sumatera Utara tetap relevan dan diakui dunia.
Sumber: