Nasib Pendidikan Pasca-Bencana: Bobby Desak Pemerintah Beri Relaksasi Biaya Kuliah Mahasiswa Sumut
Gubernur Sumut Bobby Nasution meminta Wamen PTST berikan relaksasi biaya kuliah bagi mahasiswa terdampak bencana saat pelantikan Rektor USU 2026-2031-.Foto:IST-
SUMUT.DISWAY.ID - Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, menaruh perhatian serius terhadap keberlangsungan pendidikan mahasiswa yang terdampak bencana alam. Di tengah momen pelantikan Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) periode 2026–2031, Bobby secara khusus mendesak pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (PTST) untuk memberikan keringanan biaya pendidikan atau relaksasi bagi para mahasiswa tersebut.
Permintaan ini Bobby sampaikan langsung di hadapan Wakil Menteri PTST, Prof. Dr. Fauzan, dalam acara yang berlangsung di Auditorium USU, Medan, Rabu (28/1/2026). Menurut Bobby, bencana yang melanda sebagian wilayah Sumut baru-baru ini telah melumpuhkan ekonomi keluarga para mahasiswa, sehingga bantuan kebijakan biaya kuliah menjadi sangat krusial.
Pendidikan Jangan Terhenti karena Bencana
Gubernur Bobby menekankan bahwa dampak bencana alam di Sumatera Utara tidak hanya merenggut nyawa dan harta benda, tetapi juga mengancam masa depan generasi muda. Ia mengkhawatirkan beban finansial pasca-bencana akan memaksa mahasiswa untuk putus kuliah.
“Bukan hanya nyawa yang hilang, harta benda pun ludes. Oleh karena itu, kami meminta Bapak Wamen untuk memberikan relaksasi bagi mahasiswa yang tertimpa bencana. Kami memohon adanya keringanan uang kuliah bagi warga kami yang terdampak agar semangat mereka menimba ilmu tetap terjaga,” tegas Bobby Nasution.
Ia berharap kebijakan relaksasi ini mampu memantik kembali optimisme anak-anak muda di Sumatera Utara untuk terus berinovasi dan berkontribusi memajukan bangsa meskipun tengah berada dalam masa sulit.
Tantangan Hilirisasi bagi Lulusan USU
Selain isu kemanusiaan, Bobby juga menitipkan pesan kepada Muryanto Amin yang kembali mengemban amanah sebagai Rektor USU untuk periode kedua. Ia mendorong universitas tertua di Sumatera ini untuk lebih sinkron dengan kebutuhan industri, khususnya sektor hilirisasi yang tengah digenjot pemerintah.
“Lulusan perguruan tinggi tidak boleh hanya cerdas di atas kertas. Mereka harus siap kerja, siap berinovasi, dan siap menciptakan lapangan kerja. Kita butuh tenaga ahli agar hasil perkebunan kita memiliki nilai tambah tinggi melalui industri pengolahan, bukan sekadar dijual dalam bentuk mentah,” lanjutnya.
Leadership Luar Biasa untuk Kampus Sebagai Solusi
Sejalan dengan harapan tersebut, Wamen PTST Prof. Dr. Fauzan memberikan tantangan kepada jajaran pimpinan USU. Ia menegaskan bahwa universitas harus mampu menjadi ekosistem sosial yang memberikan jawaban atas kegelisahan rakyat. Menurutnya, manajemen kampus saat ini tidak bisa lagi dijalankan dengan cara-cara yang biasa.
“Langkah kaki hari ini harus lebih baik dari kemarin. Kampus harus hadir sebagai pemberi solusi atas perkembangan persoalan di tengah masyarakat,” tutur Fauzan.
Pelantikan Muryanto Amin sendiri dilakukan langsung oleh Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) USU, Agus Andrianto. Dalam pesannya, Agus meminta seluruh civitas akademika mengakhiri perbedaan pasca-pemilihan rektor dan bersatu demi kemajuan institusi. Ia berharap perguruan tinggi mampu menjadi lokomotif teknologi yang memberikan dampak nyata pada peningkatan ekonomi nasional.
Menanggapi berbagai dorongan tersebut, Rektor USU Muryanto Amin menyatakan komitmennya untuk memperkuat Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ia berjanji akan merangkul semua pihak untuk menjadikan USU sebagai pusat solusi bagi problematika masyarakat di tengah dunia yang terus berlari kencang.
Sumber: