Filosofi di Balik Hidangan Imlek: Menjemput Keberuntungan Lewat Simbolisme Kuliner

Filosofi di Balik Hidangan Imlek: Menjemput Keberuntungan Lewat Simbolisme Kuliner

Mengapa makanan Imlek dianggap pembawa hoki? Temukan filosofi di balik Ikan Utuh, Jiaozi, hingga Nian Gao yang menjadi doa keberuntungan bagi jutaan orang.-Foto:Unsplash-

SUMUT.DISWAY.ID - Perayaan Tahun Baru Imlek, atau yang sering disebut Spring Festival, bukan sekadar ajang perjamuan makan besar. Di balik aroma dan kelezatannya, setiap menu yang tersaji di atas meja merupakan hasil kurasi tradisi yang mendalam. 

Masyarakat Tionghoa memilih hidangan bukan hanya berdasarkan cita rasa, melainkan juga melalui kemiripan bunyi nama makanan tersebut dengan kata-kata penuh berkah dalam bahasa Mandarin—sebuah konsep unik yang dikenal sebagai homofon.

Ikan Utuh: Harapan akan Rezeki yang Tak Pernah Putus

Hidangan yang paling krusial dalam jamuan Imlek adalah ikan utuh atau Yu. Dalam bahasa Mandarin, penyebutan Yu memiliki nada yang identik dengan kata "surplus" atau "kelebihan". Penyajiannya pun memiliki pakem tersendiri: ikan harus dihidangkan secara utuh dari kepala hingga ekor. Hal ini melambangkan kesempurnaan serta awal dan akhir tahun yang baik.

Ada tradisi menarik di mana keluarga tidak akan menghabiskan daging ikan tersebut sepenuhnya. Sebagian disisakan untuk disantap keesokan harinya sebagai simbol harapan agar rezeki dari tahun lalu terus mengalir dan tersisa untuk tahun-tahun mendatang.

Jiaozi: Simbol Kekayaan dari Wilayah Utara

Bagi masyarakat Tiongkok Utara, pangsit atau Jiaozi adalah primadona. Bentuknya yang melengkung menyerupai Yuanbao (batangan emas kuno) menjadikan hidangan ini sebagai simbol kemakmuran finansial. Pembuatannya sering kali menjadi momen komunal di mana seluruh anggota keluarga berkumpul untuk melipat pangsit bersama di malam tahun baru.

Uniknya, terkadang terselip sebutir koin bersih di dalam salah satu pangsit. Siapa pun yang beruntung menemukannya diyakini akan mendapatkan keberuntungan ekstra sepanjang tahun tersebut.

Keberagaman Regional: Dari Nian Gao hingga Ritual Lo Hei

Perbedaan geografis menciptakan variasi menu yang kaya makna:

Tiongkok Selatan: Masyarakat di sini lebih menyukai Nian Gao atau kue keranjang. Nama ini bermakna "tahun yang lebih tinggi", yang menjadi doa bagi kemajuan karier dan peningkatan pendapatan.

Kawasan Kanton (Singapura & Malaysia): Populer dengan ritual Lo Hei atau Yusheng. Salad ikan mentah ini diaduk dan diangkat tinggi-tinggi ke udara dengan sumpit. Semakin tinggi angkatannya, semakin besar keberuntungan yang diharapkan bakal datang.

Changshou Mian (Mie Panjang): Hidangan ini wajib disajikan tanpa dipotong. Helai mie yang panjang tak terputus melambangkan doa untuk kesehatan yang stabil dan umur panjang.

Adaptasi Global di Era Modern

Sumber: