Bukan Lewat Gol, Sadio Mané Jadi Pahlawan Kemenangan Dramatis Senegal di Final Piala Afrika
Sadio Mané menjadi pahlawan di balik layar saat membawa Senegal menjuarai Piala Afrika 2026. Meski tak mencetak gol, kepemimpinannya meredam kerusuhan di lapangan jadi kunci kemenangan atas Maroko.-Foto:IG@footballsenegal-
SUMUT.DISWAY.ID - Tim nasional Senegal kembali mengukuhkan diri sebagai raja sepak bola Afrika setelah menumbangkan tuan rumah Maroko pada laga final Piala Afrika (AFCON) yang penuh drama, Senin 19 Januari 2026. Meski tidak mencatatkan namanya di papan skor, Sadio Mané muncul sebagai sosok kunci yang menyelamatkan mentalitas tim di tengah kekacauan di Stadion Prince Moulay Abdellah.
Kemenangan ini terasa sangat emosional karena Senegal harus menghadapi tekanan luar biasa dari suporter tuan rumah serta keputusan wasit yang kontroversial di menit-menit akhir pertandingan.
Drama Kerusuhan dan Kepemimpinan Mané
Ketegangan memuncak saat laga memasuki masa injury time. Wasit memberikan penalti kontroversial untuk Maroko hanya beberapa menit setelah gol Senegal dianulir oleh VAR. Keputusan ini memicu kemarahan suporter Senegal yang mencoba merangsek masuk ke lapangan. Bentrokan antara petugas keamanan, pemain cadangan, dan suporter pun tak terhindarkan hingga menyebabkan laga terhenti selama 14 menit.
Di saat pelatih Senegal, Pape Thiaw, sempat menginstruksikan pemainnya untuk meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes, Sadio Mané justru mengambil langkah berbeda. Pemain berusia 33 tahun itu berteriak di ruang ganti dan meyakinkan rekan-rekannya untuk kembali bertanding.
"Dia satu-satunya orang yang masuk ke ruang ganti sambil berteriak agar kami keluar dan menyelesaikan pertandingan. Kami mendengarkannya karena jika Sadio berbicara, semua orang akan patuh. Ternyata dia benar," ungkap bintang muda Senegal, Lamine Camara.
Kegagalan Penalti Maroko dan Gol Penentu
Keputusan Mané untuk melanjutkan laga berbuah manis. Kiper Edouard Mendy sukses mematahkan mental tuan rumah setelah dengan mudah menangkap tendangan penalti lemah dari Brahim Díaz. Penyelamatan tersebut sekaligus menjadi tendangan terakhir sebelum laga berlanjut ke babak tambahan waktu.
Memasuki babak tambahan, Senegal tampil lebih tenang dan terorganisir. Pada menit ke-4, Pape Gueye melepaskan tembakan keras ke sudut kanan atas gawang yang memastikan kemenangan Senegal. "Kami merasa ada ketidakadilan sebelumnya, tapi Sadio meminta kami fokus kembali. Kami pun berhasil mencetak gol kemenangan," ujar Gueye.
Akhir Manis Sang Legenda
Sepanjang pertandingan, Mané yang bertindak sebagai kapten menggantikan Kalidou Koulibaly yang absen, menjadi ancaman konstan bagi pertahanan Maroko. Meski dijaga ketat oleh tiga hingga empat pemain lawan, Mané berhasil menciptakan berbagai peluang emas bagi rekan setimnya.
Kemenangan ini menandai gelar Piala Afrika kedua bagi Mané dalam enam turnamen yang ia ikuti. Pasca laga, Mané mengisyaratkan bahwa ini adalah turnamen benua terakhirnya. Meskipun demikian, pelatih Pape Thiaw berharap sang megabintang mau menunda masa pensiunnya dari tim nasional.
Pesta juara pun pecah di jalanan Dakar, sementara stadion di Rabat sunyi karena pendukung tuan rumah mulai meninggalkan tribun saat Mané mengangkat trofi tertinggi sepak bola Afrika tersebut ke udara.
Sumber: